Petinju Meksiko yang berdomisili di Texas, Benjamin Flores, menghenbuskan napas terakhirnya setelah terpukul TKO ronde 8 dari rencana 12 ronde dalam kejuaraan lowong NABF kelas bantam super oleh lawannya Al Seeger, 30 April 2009. Pada ronde naas itu Seeger mendaratkan serangkaian pukulan tanpa balas sehingga membuat wasit Lawrence Cole segera menghentikan pertandingan dan memberikan kemenangan TKO bagi Seeger. Setelah dipapah di sudutnya, tiba-tiba Flores tergeletak dan kehilangan kesadaran. Segera setelah itu Seeger dibawa dengan tandu ke rumahsakit terdekat dan segera menjalani operasi otak. Namun sayang, nyawanya tidak tertolong, petinju berusia 25 tahun ini menghembuskan napas terakhirnya, dan menjadi korban tragedi ring yang kesekian kalinya dalam sejarah tinju pro di dunia.
Tuesday, May 05, 2009
Monday, May 04, 2009
oleh Erik Irawan
Khaosai Galaxy... Mungkin masyarakat dunia dan masyarakat tinju Indonesia tidak asing lagi oleh nama besar tersebut. Benar sekali, dia adalah petinju yang bertinju bak bulldozer nan tahan pukul asal Thailand yang mengalahkan Ellyas Pical dengan TKO ronde 14 pada tanggal 28 Februari 1987 dalam kejuaraan dunia versi WBA kelas bantam yunior 52,2 Kg di ronde ke 14 dari 15 ronde yang direncanakan. Ellyas Pical yang pada saat itu memegang gelar juara dunia versi IBF kelas bantam yunior, yang diraihnya dari petinju Korea Selatan yaitu Ju Doo-chun pada tanggal 3 Mei 1985 di Istora Senayan, Jakarta, dengan kemenangan KO ronde ke 8. Sedangkan Khaosai Galaxy memegang gelar juara dunia versi WBA , gelar yang lowong itu diraihnya pada tanggal 21 november 1984 dari petinju Republik Dominica yaitu Eusebio Espinal dengan kemenangan TKO di ronde ke 6 dari 15 ronde yang direncanakan.
Galaxy adalah petinju yang sangat lama sekali memegang juara dunia versi WBA dikelas bantam yunior, dan tidak ada yang bisa merebut gelar dari tangannya. Pada tanggal 30 April 2009 saya berkesempatan bertemu langsung dengan Khaosai Galaxy pada pertandingan Kejuaraan Interim versi WBA kelas Super Bantam 55,3 Kg yaitu Poonsawat Kratingdaeng yang di latih langsung oleh Galaxy dan satu petinju lagi yang juga diasuh oleh Galaxy, Denkaosan Kaovicit, Juara Dunia versi WBA dikelas terbang 50,8 Kg.
Galaxy yang lahir di Petchaboon, Thailand pada tanggal 15 Mei 1959 ini memiliki nama asli Sohla Saenghom, sekarang berprofesi sebagai pelatih tinju, di samping ternyata memilki usaha lainnya yaitu membuat bak mobil untuk angkutan atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai angkot (angkutan perkotaan). Usaha ini sudah berjalan lebih dari 4 tahun, sedangkan usaha restoran sudah berlangsung lebih dari 5 tahun .
“Saya memiliki satu orang anak laki-laki yang berumur 10 tahun namun dia tidak menyukai olahraga tinju seperti saya, dia lebih menyukai olahraga berenang dan sangat berprestasi sekali . Saya tidak memaksakan kepada anak saya untuk mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang petinju karena kalau saya paksakan hasilnya akan kurang memuaskan,“ ungkap Galaxy yang terakhir telah mengantongi rekor bertanding sebanyak 50 kali bertanding menang 49 kali dengan kemenangan KO/TKO sebanyak 43 kali dan 1kali kalah angka dari petinju senegaranya yaitu Sakda Saksuree.
Sukses untuk Galaxy...
Catatan Redaksi:
Ellyas Pical, meskipun saat itu menggenggam sabuk juara IBF, namun dalam pertarungan melawan Galaxy, gelar tersebut tidak dipertaruhkan, dan Pical maju sebagai penantang Galaxy. Jika menang, Pical akan memperoleh gelar WBA, sedangkan jika kalah angka gelar IBF Pical tetap tersemat. Namun karena kalah TKO, maka gelar Pical dicabut oleh IBF.
Sekedar bernostalgia, pertarungan tersebut berlangsung cukup dramatis. Pukulan-pukulan kiri andalan Pical menghantam keras, namun Galaxy seolah tak merasakannya, sehingga membuat Pical yang sudah unggul merasa frustrasi dan kelelahan. Pada puncaknya Pical tergelatk loyo pada ronde 14 akibat serbuan pukulan uppercut Galaxy ke arah perut. Pical sebetulnya secara fisik masih tampak kuat melanjutkan pertandingan. Namun secara psikis, dia sudah 'habis'. Wasit asal jepang, Ken Morita coba memberi semangat Pical untuk bangkit dan menyelesaikan pertarungan, namun Pical menolak, sehingga Galaxy dinyatakan menang TKO ronde 14.
Itulah sekiranya drama paling dramatis dalam sejaran tinju pro di Indonesia.
Khaosai Galaxy... Mungkin masyarakat dunia dan masyarakat tinju Indonesia tidak asing lagi oleh nama besar tersebut. Benar sekali, dia adalah petinju yang bertinju bak bulldozer nan tahan pukul asal Thailand yang mengalahkan Ellyas Pical dengan TKO ronde 14 pada tanggal 28 Februari 1987 dalam kejuaraan dunia versi WBA kelas bantam yunior 52,2 Kg di ronde ke 14 dari 15 ronde yang direncanakan. Ellyas Pical yang pada saat itu memegang gelar juara dunia versi IBF kelas bantam yunior, yang diraihnya dari petinju Korea Selatan yaitu Ju Doo-chun pada tanggal 3 Mei 1985 di Istora Senayan, Jakarta, dengan kemenangan KO ronde ke 8. Sedangkan Khaosai Galaxy memegang gelar juara dunia versi WBA , gelar yang lowong itu diraihnya pada tanggal 21 november 1984 dari petinju Republik Dominica yaitu Eusebio Espinal dengan kemenangan TKO di ronde ke 6 dari 15 ronde yang direncanakan.
Galaxy adalah petinju yang sangat lama sekali memegang juara dunia versi WBA dikelas bantam yunior, dan tidak ada yang bisa merebut gelar dari tangannya. Pada tanggal 30 April 2009 saya berkesempatan bertemu langsung dengan Khaosai Galaxy pada pertandingan Kejuaraan Interim versi WBA kelas Super Bantam 55,3 Kg yaitu Poonsawat Kratingdaeng yang di latih langsung oleh Galaxy dan satu petinju lagi yang juga diasuh oleh Galaxy, Denkaosan Kaovicit, Juara Dunia versi WBA dikelas terbang 50,8 Kg.
Galaxy yang lahir di Petchaboon, Thailand pada tanggal 15 Mei 1959 ini memiliki nama asli Sohla Saenghom, sekarang berprofesi sebagai pelatih tinju, di samping ternyata memilki usaha lainnya yaitu membuat bak mobil untuk angkutan atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai angkot (angkutan perkotaan). Usaha ini sudah berjalan lebih dari 4 tahun, sedangkan usaha restoran sudah berlangsung lebih dari 5 tahun .
“Saya memiliki satu orang anak laki-laki yang berumur 10 tahun namun dia tidak menyukai olahraga tinju seperti saya, dia lebih menyukai olahraga berenang dan sangat berprestasi sekali . Saya tidak memaksakan kepada anak saya untuk mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang petinju karena kalau saya paksakan hasilnya akan kurang memuaskan,“ ungkap Galaxy yang terakhir telah mengantongi rekor bertanding sebanyak 50 kali bertanding menang 49 kali dengan kemenangan KO/TKO sebanyak 43 kali dan 1kali kalah angka dari petinju senegaranya yaitu Sakda Saksuree.
Sukses untuk Galaxy...
Catatan Redaksi:
Ellyas Pical, meskipun saat itu menggenggam sabuk juara IBF, namun dalam pertarungan melawan Galaxy, gelar tersebut tidak dipertaruhkan, dan Pical maju sebagai penantang Galaxy. Jika menang, Pical akan memperoleh gelar WBA, sedangkan jika kalah angka gelar IBF Pical tetap tersemat. Namun karena kalah TKO, maka gelar Pical dicabut oleh IBF.
Sekedar bernostalgia, pertarungan tersebut berlangsung cukup dramatis. Pukulan-pukulan kiri andalan Pical menghantam keras, namun Galaxy seolah tak merasakannya, sehingga membuat Pical yang sudah unggul merasa frustrasi dan kelelahan. Pada puncaknya Pical tergelatk loyo pada ronde 14 akibat serbuan pukulan uppercut Galaxy ke arah perut. Pical sebetulnya secara fisik masih tampak kuat melanjutkan pertandingan. Namun secara psikis, dia sudah 'habis'. Wasit asal jepang, Ken Morita coba memberi semangat Pical untuk bangkit dan menyelesaikan pertarungan, namun Pical menolak, sehingga Galaxy dinyatakan menang TKO ronde 14.
Itulah sekiranya drama paling dramatis dalam sejaran tinju pro di Indonesia.
oleh Erik Irawan
Khaosai Galaxy... Mungkin masyarakat dunia dan masyarakat tinju Indonesia tidak asing lagi oleh nama besar tersebut. Benar sekali, dia adalah petinju yang bertinju bak bulldozer nan tahan pukul asal Thailand yang mengalahkan Ellyas Pical dengan TKO ronde 14 pada tanggal 28 Februari 1987 dalam kejuaraan dunia versi WBA kelas bantam yunior 52,2 Kg di ronde ke 14 dari 15 ronde yang direncanakan. Ellyas Pical yang pada saat itu memegang gelar juara dunia versi IBF kelas bantam yunior, yang diraihnya dari petinju Korea Selatan yaitu Ju Doo-chun pada tanggal 3 Mei 1985 di Istora Senayan, Jakarta, dengan kemenangan KO ronde ke 8. Sedangkan Khaosai Galaxy memegang gelar juara dunia versi WBA , gelar yang lowong itu diraihnya pada tanggal 21 november 1984 dari petinju Republik Dominica yaitu Eusebio Espinal dengan kemenangan TKO di ronde ke 6 dari 15 ronde yang direncanakan.
Galaxy adalah petinju yang sangat lama sekali memegang juara dunia versi WBA dikelas bantam yunior, dan tidak ada yang bisa merebut gelar dari tangannya. Pada tanggal 30 April 2009 saya berkesempatan bertemu langsung dengan Khaosai Galaxy pada pertandingan Kejuaraan Interim versi WBA kelas Super Bantam 55,3 Kg yaitu Poonsawat Kratingdaeng yang di latih langsung oleh Galaxy dan satu petinju lagi yang juga diasuh oleh Galaxy, Denkaosan Kaovicit, Juara Dunia versi WBA dikelas terbang 50,8 Kg.
Galaxy yang lahir di Petchaboon, Thailand pada tanggal 15 Mei 1959 ini memiliki nama asli Sohla Saenghom, sekarang berprofesi sebagai pelatih tinju, di samping ternyata memilki usaha lainnya yaitu membuat bak mobil untuk angkutan atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai angkot (angkutan perkotaan). Usaha ini sudah berjalan lebih dari 4 tahun, sedangkan usaha restoran sudah berlangsung lebih dari 5 tahun .
“Saya memiliki satu orang anak laki-laki yang berumur 10 tahun namun dia tidak menyukai olahraga tinju seperti saya, dia lebih menyukai olahraga berenang dan sangat berprestasi sekali . Saya tidak memaksakan kepada anak saya untuk mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang petinju karena kalau saya paksakan hasilnya akan kurang memuaskan,“ ungkap Galaxy yang terakhir telah mengantongi rekor bertanding sebanyak 50 kali bertanding menang 49 kali dengan kemenangan KO/TKO sebanyak 43 kali dan 1kali kalah angka dari petinju senegaranya yaitu Sakda Saksuree.
Sukses untuk Galaxy...
Catatan Redaksi:
Ellyas Pical, meskipun saat itu menggenggam sabuk juara IBF, namun dalam pertarungan melawan Galaxy, gelar tersebut tidak dipertaruhkan, dan Pical maju sebagai penantang Galaxy. Jika menang, Pical akan memperoleh gelar WBA, sedangkan jika kalah angka gelar IBF Pical tetap tersemat. Namun karena kalah TKO, maka gelar Pical dicabut oleh IBF.
Sekedar bernostalgia, pertarungan tersebut berlangsung cukup dramatis. Pukulan-pukulan kiri andalan Pical menghantam keras, namun Galaxy seolah tak merasakannya, sehingga membuat Pical yang sudah unggul merasa frustrasi dan kelelahan. Pada puncaknya Pical tergelatk loyo pada ronde 14 akibat serbuan pukulan uppercut Galaxy ke arah perut. Pical sebetulnya secara fisik masih tampak kuat melanjutkan pertandingan. Namun secara psikis, dia sudah 'habis'. Wasit asal jepang, Ken Morita coba memberi semangat Pical untuk bangkit dan menyelesaikan pertarungan, namun Pical menolak, sehingga Galaxy dinyatakan menang TKO ronde 14.
Itulah sekiranya drama paling dramatis dalam sejaran tinju pro di Indonesia.
Khaosai Galaxy... Mungkin masyarakat dunia dan masyarakat tinju Indonesia tidak asing lagi oleh nama besar tersebut. Benar sekali, dia adalah petinju yang bertinju bak bulldozer nan tahan pukul asal Thailand yang mengalahkan Ellyas Pical dengan TKO ronde 14 pada tanggal 28 Februari 1987 dalam kejuaraan dunia versi WBA kelas bantam yunior 52,2 Kg di ronde ke 14 dari 15 ronde yang direncanakan. Ellyas Pical yang pada saat itu memegang gelar juara dunia versi IBF kelas bantam yunior, yang diraihnya dari petinju Korea Selatan yaitu Ju Doo-chun pada tanggal 3 Mei 1985 di Istora Senayan, Jakarta, dengan kemenangan KO ronde ke 8. Sedangkan Khaosai Galaxy memegang gelar juara dunia versi WBA , gelar yang lowong itu diraihnya pada tanggal 21 november 1984 dari petinju Republik Dominica yaitu Eusebio Espinal dengan kemenangan TKO di ronde ke 6 dari 15 ronde yang direncanakan.
Galaxy adalah petinju yang sangat lama sekali memegang juara dunia versi WBA dikelas bantam yunior, dan tidak ada yang bisa merebut gelar dari tangannya. Pada tanggal 30 April 2009 saya berkesempatan bertemu langsung dengan Khaosai Galaxy pada pertandingan Kejuaraan Interim versi WBA kelas Super Bantam 55,3 Kg yaitu Poonsawat Kratingdaeng yang di latih langsung oleh Galaxy dan satu petinju lagi yang juga diasuh oleh Galaxy, Denkaosan Kaovicit, Juara Dunia versi WBA dikelas terbang 50,8 Kg.
Galaxy yang lahir di Petchaboon, Thailand pada tanggal 15 Mei 1959 ini memiliki nama asli Sohla Saenghom, sekarang berprofesi sebagai pelatih tinju, di samping ternyata memilki usaha lainnya yaitu membuat bak mobil untuk angkutan atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai angkot (angkutan perkotaan). Usaha ini sudah berjalan lebih dari 4 tahun, sedangkan usaha restoran sudah berlangsung lebih dari 5 tahun .
“Saya memiliki satu orang anak laki-laki yang berumur 10 tahun namun dia tidak menyukai olahraga tinju seperti saya, dia lebih menyukai olahraga berenang dan sangat berprestasi sekali . Saya tidak memaksakan kepada anak saya untuk mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang petinju karena kalau saya paksakan hasilnya akan kurang memuaskan,“ ungkap Galaxy yang terakhir telah mengantongi rekor bertanding sebanyak 50 kali bertanding menang 49 kali dengan kemenangan KO/TKO sebanyak 43 kali dan 1kali kalah angka dari petinju senegaranya yaitu Sakda Saksuree.
Sukses untuk Galaxy...
Catatan Redaksi:
Ellyas Pical, meskipun saat itu menggenggam sabuk juara IBF, namun dalam pertarungan melawan Galaxy, gelar tersebut tidak dipertaruhkan, dan Pical maju sebagai penantang Galaxy. Jika menang, Pical akan memperoleh gelar WBA, sedangkan jika kalah angka gelar IBF Pical tetap tersemat. Namun karena kalah TKO, maka gelar Pical dicabut oleh IBF.
Sekedar bernostalgia, pertarungan tersebut berlangsung cukup dramatis. Pukulan-pukulan kiri andalan Pical menghantam keras, namun Galaxy seolah tak merasakannya, sehingga membuat Pical yang sudah unggul merasa frustrasi dan kelelahan. Pada puncaknya Pical tergelatk loyo pada ronde 14 akibat serbuan pukulan uppercut Galaxy ke arah perut. Pical sebetulnya secara fisik masih tampak kuat melanjutkan pertandingan. Namun secara psikis, dia sudah 'habis'. Wasit asal jepang, Ken Morita coba memberi semangat Pical untuk bangkit dan menyelesaikan pertarungan, namun Pical menolak, sehingga Galaxy dinyatakan menang TKO ronde 14.
Itulah sekiranya drama paling dramatis dalam sejaran tinju pro di Indonesia.
